Posted by: zakif on: Desember 23, 2008
oleh Aamir Latif, koresponden IoL
ISLAMABAD – Umat minoritas Hindu dan Kristen Pakistan dibuat marah dengan tindakan keras pemerintah terhadap Jamaat-ud-Dakwah (JD). Mereka memuji jasa-jasa lembaga amal itu atas usahanya menolong kaum miskin dan membutuhkan, tanpa memandang agama atau kasta.
“Saya katakan, ini bukan pelarangan terhadap Jamaat-ud-Dakwah, tapi ini perlawanan terhadap warga miskin Pakistan, yang telah tertolong oleh lembaga amal itu,” kata Kamran Michael, seorang petugas kebersihan beragama Kristen, dari bagian utara kota Lahore, kepada IslamOnline.net.
Ratusan umat minoritas Hindu dan Kristen Pakistan berdemonstrasi di bagian selatan kota Hyderabad pada Selasa, 16 Desember, dalam rangka solidaritas bagi JD.
Lembaga amal Muslim tersebut dilarang, baik itu oleh otoritas Islamabad maupun Dewan Keamanan PBB pekan lalu, atas tuduhan keterkaitan dengan Lashkar-e-Taiba (LT)—sebuah kelompok tak berbadan hukum di India yang dipersalahkan atas serangan Mumbai berdarah.
Sejalan dengan pelarangan itu, Pakistan menutup ratusan sekolah, rumah sakit dan klinik yang dikelola oleh JD di seluruh pelosok negeri, di mana pelayanannya tersedia bagi warga miskin secara gratis.
“Pemerintah telah gagal menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi kami. Kini, pemerintah melarang mereka yang telah menyediakan kami fasilitas tersebut,” kata Michael.
“Mari lihat, apa yang bisa dilakukan pemerintah? Tapi kecil harapan saya.”
Bagi Naresh Kumar, seorang petani Hindu di kota bersejarah Hala, pelarangan dan tindakan keras itu tak dapat dibenarkan.
“Oleh JD, keluarga saya disediakan jatah makan bulanan serta pengobatan gratis bagi putra-putri dan orang tua saya selama berbulan-bulan,” kata Kumar.
“Saya buruh miskin. Saa tak bisa menanggungnya, jika JD tak dapat membantu saya.”
Bermarkas di 30 km sebelah utara Lahore, JD telah mengokohkan dirinya sebagai salah satu organisasi amal terbesar di kawasan negara Muslim Asia Selatan, di mana 34 persen dari total populasi hidup di bawah garis kemiskinan.
Pahlawan
Kelompok minoritas mendaulat lembaga amal Muslim itu sebagai palawan kemanusiaan alih-alih sebagai organisasi teroris.
“Mereka menolong kami atas dasar kemanusiaan,” kata Michael, salah seorang dari ratusan umat Kristen yang merasa telah diuntungkan dari kegiatan amal JD. Ia bekerja di Lahore, kota di provinsi padat penduduk Punjab.
“Pelarangan terhadap organisasi seperti itu berarti pelarangan terhadap kemanusiaan.”
Lembaga amal itu begitu populer dalam banyak lapisan masyarakat Pakistan, khususnya mereka yang terkena bencana alam, di mana mereka memainkan peran utama dalam penyediaan bantuan bagi para korban.
Pekerja Kristiani itu membenarkan bahwa lembaga amal tersebut menawarkan bantuan bagi komunitasnya tanpa melihat afiliasi keagamaan atau status sosial mereka.
“Mereka tak pernah menanyakan kepada saya atau umat Hindu atau umat kristen yang lain, tentang apa agama atau kasta kami.”
Umat Kristen ialah kaum minoritas terbesar di negara Muslim Asia Selatan ini, berjumlah sekitar 3 persen dari total populasi 170 juta jiwa.
Kebanyakan umat Kristen tergolong berpenghasilan rendah dan bekerja serabutan.
Naresh, seorang petani Hindu, tak dapat memahami bagaimana suatu kelompok yang berbuat teramat banyak dalam menolong kaum minoritas agama, dapat dilabeli sebagai organisasi teroris.
“Ada banyak sejumlah pebisnis besar Hindu di sini, tapi mereka tak pernah memedulikan kami, sebab kami termasuk kasta terpinggir. Orang-orang JD tak pernah menanayi kami hal semacam itu.”
Umat Hindu ialah umat minoritas agama terbesar kedua, berjumlah 2 persen dari total populasi.
Kebanyakan mereka berada di bagian selatan Sindh, provinsi dengan penduduk terpadat kedua di Pakistan, tempat di mana mereka bekerja sebagai buruh tani.
“Mereka menolong kami hanya karena mereka memperlakukan kami sebagaimana layaknya manusia,” tegas Naresh.
“Saya pikir, mereka yang menghormati kemanusiaan bukanlah teroris.”
Sumber: IslamOnline.net
aku interest sekali dengan yayasan tersebut kalau boleh bisa gak ya aku dipertemukan ama pendirinya karena dengan ijin tuhan aku mo buat yayasan seperti itu diindonesia dan kalau bisa alamat lengakpnya n no.rekeningnya biar saya bisa sumbang….untuk kemanusiaan
Maret 24, 2009 pada 3:23 am
kaya jaman orde baru
kalo ada orang berperilaku yang agak beda langsung di cap “komunis”, “PKI”, atau “subversif”