Nyiar

Ateis London Berulah dan Ngeyel Membangkang Teguran

Posted by: admin on: 25 Januari 2012

Kelompok ateis di University College London berulah dengan mempublikasikan kartun yang menggambarkan Yesus dan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah laman web.

“[Kami memiliki] tanggung jawab untuk menjaga dan mendorong kebebasan berekspresi di antara para anggota kami, memastikan dihargainya perbedaan di antara anggota kami, dan mencapai adanya kesempatan yang setara bagi anggota kami,” kata pihak Persatuan Mahasiswa (semacam BEM) dalam pernyataannya seperti dilaporkan The Guardian pada Jumat (13/01) dan dikutip laman OnIslam.

“Persatuan Mahasiswa UCL berkehendak memelihara hubungan baik di antara berbagai macam kelompok mahasiswa dan mewujudkan lingkungan yang tentram tempat semua mahasiswa dapat merasakan manfaatnya tanpa memandang agama maupun keyakinan mereka,” lanjut pernyataan itu, sebagai respon atas ulah kelompok ateis.

Permasalahan bermula ketika Perhimpunan Ateis Sekuleris Humanis University College London mempublikasikan kartun yang menggambarkan nabi Isa AS dan nabi Muhammad SAW.

Perhimpunan ateis itu menggunakan judul yang diambil dari sebuah buku komik (Jesus and Mo, buatan seorang kartunis Inggris yang memakai pseudonym Mohammed Jones) untuk mengiklankan kegiatan di Facebook.

Menyusul adanya aduan dari para mahasiswa, persatuan mahasiswa pun menasihati pihak ateis bahwa alangkah “bijaksana” nya jika kartun tersebut diturunkan.

Tetapi pihak ateis menolak, dan malah meluncurkan petisi daring untuk “mempertahankan kebebasan berekspresi di University College London” dan mengkritisi “segala upaya untuk menyensor” organisasinya.

Pada Kamis paginya, petisi tersebut telah memeroleh 3.000 penandatangan, termasuk sekuleris totok Richard Dawkins.

Petisi itu juga mendapat dukungan dari Asosiasi Humanis Inggris,  Perhimpunan Sekuler Nasional, Federasi Ateis Nasional, Perhimpunan Mahasiswa Sekuler dan Humanis, dan majalah New Humanist.

Menghadapi pembangkangan pihak Perhimpunan, juru bicara Persatuan mengatakan bahwa permintaan untuk menghapus kartun tetap berlaku, tetapi keputusan terkait pengiklanan kegiatan merupakan kebebasan dari pihak perhimpunan masing-masing.

“Presiden Perhimpunan (Ateis) menjadi pihak yang bertanggung jawab atas publikasi yang mereka lakukan, dan (publikasi itu) tidak melalui pemeriksaan oleh Persatuan Mahasiswa UCL  terkait penyebarluasannya,” kata pihak Persatuan.

“Mereka telah diberikan ‘pelatihan kesetaraan’ dalam menjalankan sebuah perhimpunan, untuk membantu mereka memahami perlunya keseimbangan di antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas kultural.”

Perhimpunan ateis menganggap tindakan (pihak Persatuan) itu sebagai bentuk kemenangan atas keputusannya yang tetap menampilkan kartun kontroversial, dan berterima kasih kepada ribuan sekuleris yang telah menandatangani petisi sebagai bentuk dukungan.

“Persatuan Mahasiswa UCL telah mengakui berbuat salah dan korespondensi awal dengan (perhimpunan) kami adalah keliru,” kata presiden Perhimpunan, Robbie Yellon, dalam sebuah pernyataan di laman Facebook-nya.

“Persatuan kini tengan menijau ulang sikapnya dalam persoalan ini dan telah menyampaikan bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi. Mereka tidak bisa lagi menyuruh kami untuk menarik gambar (kartun) itu.”

Tindakan pendisiplinan
Meskipun kelompok-kelompok di dalam universitas mendapat jaminan kebebasan untuk mengiklankan kegiatan-kegiatan mereka, pihak persatuan mahasiswa mengonfirmasi bahwa perhimpunan ateis itu bisa mendapat tindakan pendisiplinan.

“Jika orang-orang terus-menerus mengajukan protes, maka kami akan mengikuti prosedur normal,” kata James Skuse, staf bagian Komunikasi dan Demokrasi Persatuan, kepada The Guardian.

Ia mengatakan tindakan pendisiplinan dimaksud, yang bisa mencakup pengunduran diri secara paksa terhadap para anggota komite perhimpunan, atau melepaskan afiliasi perhimpunan dari persatuan mahasiswa, adalah salah satu tindakan dari banyak kemungkinan.

Juru bicara Persatuan menambahkan bahwa sudah menjadi tugas Persatuan untuk memastikan para mahasiswa tidak dilecehkan karena faktor ras, gender, agama, atau kebangsaan mareka.

Menanggapi itu, pihak Perhimpunan ateis tetap ngotot. Mereka menyatakan akan melawan segala bentuk tindakan pendisiplinan.

“Sayang sekali, pihak Persatuan menganggap adanya kemungkinan bahwa pemostingan gambar (kartun) itu bisa dianggap sebagai tindakan bullying, purbasangka, pelecehan atau diskriminasi,” kata James lagi.

“Kami meyakini adanya perlindungan bagi rekan-rekan mahasiswa melalui kebijakan universitas dan persatuan; namun demikian, kami tidak bisa menerima saran (penurunan gambar kartun) semacam itu.”

Presiden Perhimpunan, Robbie Yellon, menambahkan bahwa  pihak perhimpunan tidak bisa dipersalahkan atas tuduhan bullying atau pelecehan.

“Sejauh saya dan kami (pihak Perhimpunan) perhatikan, tuduhan itu benar-benar mengagetkan,” kata Yellon.

“Jika memang (tuduhan itu) terjadi, kami akan menghadapinya dan melakukan apapun dengan kekuatan kami untuk melawannya.”

Selama beberapa tahun terakhir, jumlah kaum ateis terus bertambah di Eropa dan Amerika Serikat.

Sebuah survey tahun 2005 yang dipublikasikan dalam Encyclopedia britannica menyebutkan jumlah kaum ateis sekira 11,9 persen dari total populasi dunia.

Sebuah survey resmi dari Uni Eropa baru-baru ini mengatakan bahwa 18 persen dari total populasi negara-negara anggotanya tidak meyakini adanya Tuhan.

The Washington Post juga melaporkan pada Saptember lalu bahwa pergerakan ateis sedang tumbuh di Eropa, dan mereka serius melakukan lobi demi mendapat pengaruh politik dan jam tayang (di stasiun-stasiun televisi).

Sumber: OnIslam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.