Nyiar

Ini Dia 10 Cara agar Tidak Menikahi Orang yang Keliru

Posted by: admin on: 25 Januari 2012

oleh: Dr. Nafisa Sekandari dan Sr. Hosai Mojaddidi

Ada cara benar dan cara salah dalam mengenal seseorang untuk dinikahi.  Cara salah yakni dengan mengejar “asyiknya” berdekatan, dan selama prosesnya justru sama sekali lupa menanyakan hal-hal kritis yang sebenarnya membantu menentukan kecocokan. Salah satu kesalahan besar yang banyak dilakukan ialah tergesa-gesa menikah tanpa mengenali seseorang secara tepat dan menyeluruh. Ada mitos umum bahwa durasi pacaran cukup akurat untuk mengukur tingkat kecocokan. Masalahnya ialah tidak adanya perenungan tentang bagaimana waktu kebersamaan itu dihabiskan.

Jika Anda atau kenalan Anda sedang dalam fase “mengenal seseorang” (ta’aruf), panduan berikut ini menyuguhkan secara pasti apa-apa saja yang harus diperhatikan dan diabaikan:

1) Jangan Nikahi ‘Potensi’
Kerapkali kaum adam berpikir menikahi seorang perempuan dengan berharap bahwa si perempuan tidak akan  berubah, sementara kaum hawa menimbang-nimbang menikahi seorang pria yang diharapkan dapat dia ubah. Ini pendekatan keliru bagi kedua belah pihak. Jangan mengasumsikan bahwa Anda dapat mengubah seseorang setelah Anda menikahinya, atau bahwa si pasangan dapat mencapai potensinya. Tidak ada jaminan akhir bahwa perubahan-perubahan itu akan menjadi lebih baik. Kenyatannya, seringkali menjadi lebih buruk.

Jika Anda tidak dapat menerima seseorang atau membayangkan hidup dengannya sebagaimana ia sekarang, maka jangan nikahi. Perbedaan-perbedaan ini bisa mencakup beberapa hal seperti, ideologi atau perbedaan praktik keagamaan, kebiasaan, masalah kebersihan (higienitas), kemampuan berkomunikasi, dan sebagainya.

2) Pilihlah Karakter Di Atas Chemistry
Sekalipun chemistry dan ketertarikan tak diragukan lagi memang penting, tetapi karakter berada di atas keduanya. Sebuah kutipan terkenal mengatakan: “Chemistry memantik nyala api, tetapi karakterlah yang menjaganya terus bergelora.” Ide tentang “jatuh cinta” jangan sampai dijadikan satu-satunya alasan untuk menikahi seseorang; karena sangatlah mudah untuk menganggap gairah dan birahi sebagai cinta.

Ciri-ciri karakter terpenting yang patut dicari meliputi: kerendahan hati, kebaikan, tanggung jawab, dan kebahagiaan. Berikut ini penjelasan lebih rinci untuk masing-masing ciri:

Kerendahan hati: Orang yang rendah hati tidak pernah menuntut (penghargaan) orang, tetapi selalu melakukan hal yang benar dari diri mereka sendiri. Mereka meletakkan nilai-nilai dan prinsip di atas kenyamanan dan kesenangan. Mereka tak mudah marah, bersederhana, dan menjauhkan diri dari materialisme.

Kebaikan: Orang baik ialah pemberi sejati. Mereka berusaha untuk membahagiakan dan meminimalisir penderitaan orang lain. Untuk mengetahui apakah seseorang itu pemberi, amatilah bagaimana mereka memperlakukan keluarga, saudara, dan orang tua mereka. Apakah mereka bersikap penuh terima kasih kepada ortu mereka untuk segala apa yang telah dilakukan ortu kepada mereka? Jika tidak, maka ketahuilah bahwa mereka tidak akan pernah menghargai apa-apa yang kamu lakukan untuk mereka. Bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang tidak harus mereka hadapi dengan baik (seperti pramusaji, sales, pegawai/bawahan, dlsb)? Bagaimana mereka membelanjakan uang mereka? Bagaimana mereka mengatasi kemarahan; kemarahan mereka sendiri dan reaksi mereka terhadap kemarahan orang lain?

Tanggung jawab: Seorang yang bertanggung jawab memiliki kestabilan dalam hal keuangan, hubungan, pekerjaan, dan karakternya. Anda dapat mengandalkan orang semacam ini dan mempercayai apa yang mereka katakan.

Kebahagiaan: Seorang yang bahagia merasa puas dengan bagian kehidupannya sendiri. Mereka merasa baik-baik saja dengan diri mereka dan tentang kehidupan mereka. Mereka fokus kepada yang mereka punyai, bukannya kepada yang tidak mereka miliki. Mereka sangat jarang mengeluh.

3) Jangan Abaikan Kebutuhan Emosional Partner Anda
Baik itu laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kebutuhan emosional. Dan agar hubungan berpasangan bisa sukses, kebutuhan-kebutuhan tersebut mesti saling bertemu. Kebutuhan emosional mendasar bagi perempuan adalah untuk dicintai. Kebutuhan emosional mendasar bagi laki-laki adalah untuk dihormati dan dihargai.

Untuk membuat seorang perempuan merasa dicintai, berikan padanya 3 A: Atensi (Perhatian), Afeksi (Kasih Sayang), dan Apresiasi (Penghargaan). Untuk membuat seorang laki-laki merasa dicintai, berikan padanya 3 R: Respect (Rasa hormat), Rassurance (Penentraman), dan Relief (Sokongan).

Adalah kewajiban bagi setiap pasangan untuk saling memastikan bahwa yang lainnya juga bahagia, karena hal ini akan meningkatkan perasaan intim. Sepanjang setiap pasangan saling terpenuhi kebutuhan emosionalnya, hubungan yang intim akan berkembang subur.

Tatkala seorang laki-laki bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan emosional istrinya, maka sang istri akan merasa lebih terdorong untuk juga memenuhi hasrat seksual sang suami. Sebaliknya, ketika seorang perempuan bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan emosional suaminya, maka sang suami akan merasa lebih terpacu untuk memberinya kasih sayang, cinta dan penghargaan yang dia inginkan dari sang suami. Saling bersama dalam melakukan hal ini mendorong sikap memberi dan menerima.

4) Hindari Sikap Menolak Rencana Hidup
Dalam pernikahan, Anda dapat tumbuh bersama-sama atau tumbuh sendiri-sendiri. Saling berbagi tujuan yang sama dalam hidup akan meningkatkan kesempatan bagi Anda untuk tumbuh bersama.

Anda mesti mengetahui apa yang benar-benar digeluti seseorang. Dengan kata lain, apa hal yang benar-benar mereka jadikan passion? Kemudian tanya diri Anda sendiri, “Apakah aku respek terhadap passion ini?” “Apakah aku respek terhadap apa yang mereka geluti?”

Kian spesifik Anda mendefinisikan diri Anda sendiri, misalnya nilai-nilai yang Anda anut, keyakinan Anda, gaya hidup Anda, maka akan makin baik pula peluang Anda untuk menemukan pasangan hidup, belahan jiwa, si dia yang menurut Anda paling cocok.

Ingatlah, sebelum Anda memutuskan dengan siapa akan menempuhi perjalanan, Anda harus terlebih dahulu menentukan tujuan Anda.

5) Hindari Kegiatan Fisik atau Seks Pranikah
Sadarilah bahwa ada kebijaksanaan yang luar biasa mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk menjauhkan diri dari keintiman sebelum proses pernikahan; perintah itu mencegah bahaya besar dan juga memelihara kesucian kehormatan yang paling diberkahi dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Di samping konsekuensi-konsekuensi keagamaan yang sudah jelas,  ketika sebuah hubungan fisik dilakukan sebelum waktunya, maka masalah-masalah penting seperti karakter, filosofi hidup, dan kecocokan akan menjadi terkesampingkan. Akibatnya, segala sesuatuanya diromantisasi, dan bahkan menjadi sukar untuk memikirkan persoalan-persoalan penting apa saja yang perlu dibicarakan bersama pasangan.

Komitmen intelektual mesti dibangun terlebih dahulu sebelum komitmen emosional atau seksual.

6) Hindari Kurangnya Hubungan Emosional
Ada empat pertanyaan yang mesti Anda jawab YA:

  • Apakah aku menghormati dan mengagumi orang ini? Sebutkan secara jelas (spesifik), apa yang saya hormati dan kagumi dari orang ini?
  • Apakah aku mempercayai orang ini? Dapatkan aku mengandalkannya? Apakah aku percaya penilaian dan pandangan-pandangannya? Apakah aku mempercayai kata-katanya? Dapatkah aku memercayai apa yang mereka katakan?
  • Apakah aku merasa aman? Apakah aku merasa aman/tentram secara emosional bersama orang ini? Dapatkah aku terlihat rentan (vulnerable) di dekatnya? Dapatkah aku menjadi diri sendiri? Dapatkah aku terbuka? Dapatkah aku mengekspresikan diriku sendiri?
  • Apakah aku merasa tenang dan tentram bersama orang ini?

Jika jawabannya “Aku tidak tahu”, “Aku tidak yakin” dan semacamnya, maka teruslah mengevaluasi, sampai Anda tahu dengan pasti dan benar-benar memahami bagaimana perasaan Anda. Jika Anda sekarang saja tidak merasa aman, maka Anda tidak akan merasa aman ketika menikahinya. Jika sekarang saja Anda tidak mempercayainya, maka ini tidak akan berubah ketika Anda menikah!

7) Berikan Perhatian terhadap Kegelisahan Emosional Anda
Memilih seseorang yang Anda tidak merasa aman secara emosional bersamanya, bukanlah resep yang bagus untuk sebuah hubungan pernikahan yang langgeng dan penuh cinta. Memiliki rasa aman secara emosional adalah landasan sebuah pernikahan yang kokoh dan sehat. Ketika Anda merasa tidak aman, Anda tidak dapat mengekspresikan perasaan dan pandangan-pandangan Anda. Belajarlah bagaimana mengenali apakah Anda berada dalam sebuah hubungan yang menyimpang (tidak sehat).

Jika Anda merasa bahwa Anda harus memonitor segala apa yang Anda katakan, jika Anda bersama seseorang dan Anda merasa tidak dapat benar-benar mengekspresikan diri Anda secara tulus apa adanya, dan selalu nerasa seperti berjalan di atas cangkang telur, maka kemungkinan besar Anda berada dalam hubungan yang abusif (tidak sehat). Perhatikanlah beberapa hal berikut ini:

Serba mengontrol tingkah laku: Hal ini mencakup cara Anda bertindak, cara Anda berpikir, cara Anda berpakaian, cara Anda mengenakan hijab, dan cara Anda menghabiskan waktu Anda. Ketahuilah perbedaan antara “sikap sekadar memberi saran” dengan “sikap menuntut”. Sikap menuntut merupakan sebentuk ekspresi suka mengontrol/mendominasi. Sekalinya ia menuntut, maka Anda dipaksa harus melakukannya, atau kalau tidak akan ada konsekuensinya. Semua hal ini jelas merupakan tanda-tanda kepribadian yang abusif.

Perihal kemarahan: Termasuk jenis ini ialah seseorang yang gemar meninggikan suara mereka, yang pemarah, yang suka memarah-marahi Anda, yang suka memaki-maki Anda, dan sejenisnya. Anda tidak harus pasrah terhadap perlakuan jenis ini. Banyak orang yang menoleransi perilaku seperti ini biasanya berasal dari latar belakang yang abusif. Jika ini yang menjadi kasus Anda atau kenalan Anda, segeralah meminta pertolongan. Bereskanlah masalah-masalah ‘kemarahan’ itu sebelum Anda menikah, atau bahkan sebelum Anda  memikirkan tentang pernikahan.

8) Hati-hati terhadap Kurangnya Keterbukaan Pasangan Anda
Banyak pasangan melakukan hal keliru dengan tidak membeberkan semuanya di atas meja untuk didiskusikan sejak awal. Tanyalah diri Anda sendiri, “Apa saja yang aku butuh ketahui agar sepenuhnya yakin bahwa aku ingin menikahi orang ini?” “Apa yang mengusik/mengganggu tentang orang ini atau tentang hubungan ini?” Adalah penting untuk mengenali apa yang mengusikmu/mengganggum Anda, hal-hal yang Anda prihatinkan, hal-hal yang Anda takutkan untuk diangkat dalam sebuah diskusi. Kemudian Anda harus mendiskusikannya secara jujur. Ini merupakan cara ampuh untuk menguji kekuatan hubungan Anda.

Mengangkat persoalan-persoalan ini ketika ada konflik merupakan kesempatan bagus untuk benar-benar mengevaluasi seberapa baik Anda berkomunikasi, bernegosiasi, dan bekerja bersama layaknya sebuah tim. Ketika orang terlibat ke dalam pertengkaran soal kuasa, dan hanya bisa saling menyalahkan satu sama lain, maka itu menjadi indikasi bahwa mereka tidak bekerja secara tim dengan baik. Juga penting untuk bersikap rentan (vulnerable) di dekat satu sama lain.

Ajukanlah pertanyaan mendalam satu sama lain dan lihat bagaimana tanggapan pasanganmu. Bagaimana mereka menanganinya? Apakah mereka bersikap defensif? Apakah mereka menyerang? Apakah mereka menarik diri? Apakah mereka jengkel? Apakah mereka menyalah-nyalahkanmu? Apakah mereka tidak memedulikannya? Apakah mereka menyembunyikannya atau merasionalisasikannya? Jangan cuma dengarkan apa yang mereka katakan, tetapi perhatikan juga baik-baik bagaimana mereka mengatakannya.

9) Hati-hati Menghindari Tanggungjawab Pribadi
Amatlah penting untuk terus mengingat bahwa tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda. Banyak orang melakukan kesalahan dengan berpikir bahwa seseorang yang akan memenuhi kebahagiaannya dan membuat hidupanya lebih baik dan itu dijadikan alasan untuk menikah. Orang gagal menyadari bahwa jika mereka tidak bahagia sebagai seorang lajang, mereka akan terus merasakan kenestapaan ketika mereka menikah.

Jika Anda sekarang tidak bahagia dengan diri sendiri, tidak menyukai diri Anda sendiri, tidak menyukai arah kehidupan Anda yang kini sedang berjalan, maka alangkah pentingnya untuk bertanggungjawab terhadap hal-hal tadi itu, dan segera memperbaiki kehidupan Anda sebelum mempertimbangkan untuk menikah. Jangan sampai membawa-bawa persoalan-persoalan ini ke dalam pernikahan Anda dan berhaap pasangan Anda akan menyelesaikannya.

10) Perhatikan Kurangnya Kesehatan Emosional dan Availabilitas Calon Pasangan Anda
Banyak orang memilih pasangan yang tidak sehat secara emosional atau tidak available secara emosional. Satu permasalahan besarnya ialah ketika seorang pasangan tidak mampu menyeimbangkan ikatan emosional dengan anggota keluarga,  pernikahan akan berakhir dengan jumlah 3 (atau lebih) orang, bukannya 2 orang. Contohnya jika seorang laki-laki begitu sangat bergantung kepada ibunya dan membawa-bawa kebergantungan itu ke dalam pernikahan; tanpa diragukan lagi, inilah resep menuju bencana. Juga penting untuk mempertimbangkan hal-hal berikut:

Hindari orang yang dalam jiwa mereka kosong secara emosional. Termasuk jenis ini ialah orang yang tidak menyukai diri mereka sendiri karena mereka kekurangan kemampuan untuk bisa available secara emosional. Mereka selalu terkungkung oleh kekurangan, perasaan tidak aman, dan pemikiran-pemikiran negatif mereka sendiri. Mereka terus-menerus bergulat dengan depresi, merasa tidak bahagia, terisolasi, berada dalam keadaan kritis dan gemar menghakimi; cenderung untuk tidak memiliki satupun sahabat yang benar-benar dekat, dan seringkali tidak mempercayai orang atau malah merasa takut terhadap orang lain. Tanda lainnya ialah mereka selalu merasa kebutuhan mereka tidak kunjung terpenuhi; mereka terlampau sensitif dalam soal hak, dan merasa marah ketika mereka menganggap orang lain seharunya peduli terhadap mereka tapi tidak memberikan kepedulian itu. Mereka merasa terhimpit oleh kebutuhan orang lain dan mudah sebal terhadap orang lain. Orang-orang semacam ini tidak bisa available secara emosional untuk kemudian membangun hubungan yang sehat bersama mereka.

Kecanduan juga dapat membatasi tingkatan availabilitas pasangan demi membangun hubungan emosional yang kuat. Jangan pernah nikahi seorang pencandu. Kecanduan tidak hanya terbatas pada obata-obatan dan alkohol. Bisa saja kecanduan dan ketergantungannya terhadap pekerjaan, hobi, olahraga, belanja, uang, kuasa, status, materi, dan sebagainya. Ketika seseorang memiliki kecanduan, mereka tidak akan dan tidak bisa available secara emosional untuk kemudian membangun hubungan dekat denganmu!

Beberapa poin tambahan untuk dipertimbangkan:
1. Kenyataannya tida ada seorangpun yang akan terlihat seperti umur 25 tahun untuk selamanya. Pada puncaknya, kita mencintai sosok yang kita nikahi lebih dari karena penampilan mereka. Ketika kita mengetahui bahwa seseorang itu kita cintai dan kagumi, kita akan mencintai mereka karena inner beauty dan hal-hal yang esensial.

2. Sekalinya kita menemukan seseorang, yang secara sadar atau tanpa sadar sangat kita inginkan, semuanya kita anggap baik-baik saja sehingga kita memutuskan untuk tidak mempertanyakan atau melihat apa-apa yang jelas-jelas terlihat di depan mata kita: bahwa ternyata mereka kasar terhadap pramusaji, doyan membicarakan kesusahan orang lain, kasar terhadapmu, dan sebagainya. Hendaknya kita tidak berhenti bertanya, “Apa maksudnya ini semua berkaitan dengan karakter mereka?”

3. Jangan pernah pisahkan seseorang dari keluarga mereka, latar belakang, pendidikan, sistem keyakinan, dan sebagianya. Hal ini bisa diklarifikasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jelas. Ajukanlah pertanyaan seperti, “Bagaimana menurutmu gaya hidup sederhana (simple) itu?” “Apa yang kamu harapkan daris ebuah pernikahan?” “Bagaimana kamu akan membantu dalam urusan rumah tangga?” Lalu bandingkan pendapatmu dengan jawaban mereka.

4. Bersikaplah felksibel. Jadilah orang yang berpikiran terbuka!

5. Mengorbankan kebahagiaan pernikahan tidak boleh dikacaukan dengan tindakan martir. Seharusnyalah pernikahan itu melahirkan kebahagiaan dan menyaksikan sosok pasangan juga bahagia karena hubunganmu dengannya.

6. Moralitas dan spiritualitas merupakan kualitas yang sejatinya menentukan seseorang, baru disusul oleh faktor kecantikan, kekayaan, dan kesehatan. Sosok orang yang tinggi tingkat spiritualitas dan moralitasnya akan berdiri setia mendampingimu dalam penderitaan dan kegetiran. Jika seseorang tidak sadar-Tuhan dan tidak menjalankan kewajibannya kepada Tuhan, maka mengapa kamu harus mengharapkan mereka memenuhi hak-hak yang dibebankan kepadamu untuk mereka?  Pasangan ideal ialah sosok orang yang memelihara kemurnian berkeluarga yang membutuhkan tingkatan tertentu dalam hal pengendalian-diri dan disiplin-diri. Sebagaimana juga keyakinan bahwa hubungan fisik itu tetap memasukkan hubungan spiritual dan emosional. Mengetahui kesamaan dan keseimbangan antara aspek emosional dan spiritual sebuah hubungan, merupakan kunci utama bagi pernikahan yang sehat dan tumbuh baik.

Sumber: MentalHealth4Muslim

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.